Pagi ini, saya kembali mendapat tugas menjadi pengawas ujian sekolah di tempat sya mengajar.. Mata pelajaran yang diujijan adalah fisika.. Ya, saya mengajar di salah satu SMK swasta di kota saya. Dari info yang saya peroleh, SMK ini baru pertama kali mengadakn ujian sekolah. Karena memang siswa yang sedang ujian sekarang adalah siswa angkatan pertama dari SMK ini. Rupanya, mapel fisika masih merupakan salah satu mapel yang cukup dianggap sulit untuk para siswa. Jujur saja, kalau menurut saya pribadi memanv sangat sulit.. Hehe
Mengapa sata mengatakan bahwa siswa menganggap mapel ini sulit?
Karena dari awal mereka mengerjajan, nampak dari raut wajah mereka yg tampak lebih serius dr biasanya. Ditambah lagi dengan bukti, ada salah satu siswa yang hingga waktu ujian tinggal 30 menit tampak lembar jawabanx masih bersih.. Siswa tersebut jg tampak mencoba meminta jawaban kepada temannya.
Sebagai pengawas, sebenarnya saya merasa sangat terganggu.. Namun, saya pun juga tidak tega jika nantinya masih ada siswa yang tidak lulus hanya karena saya terlalu ketat mengawasi.
Jika mengingat saat ujian ketika saya masih menjadi siswa seperti mereka, saya kadang jg geleng-geleng kepala.. Mengapa demikian? Karena terjadi beberapa kemerosotan mental yang terjadi. Pertama, pada jaman saya, ada anggapan bahwa guru pengawas menjadi salah satu faktor keberhasilan dalam mengerjakan seluruh soal. Mengapa? Karena ketika ada pengawas yang sangat ketat dalam aturan, maka kami secara otomatis akan kehilangan kesempatan bertukar jawaban dengan teman. Berbeda dengan jaman sekarang.. Saya melihat, pengawas bukan lag sebagai penentu keberhasilan. Karena memang mereka, para siswa di jaman sekarang menganggap pengawas hanyalah orang yg bertugas membawakan lembar soal dan jawaban saja. Tidak ada rasa canggung atau pn sungkan melakukan pertukaran jawaban dengan siswa lain. Tengok kiri, kanan, belakang dengan sangat santai. Ketika pengawas menegur pun mereka hanya tersenyum tapi tetap melanjutkan aktifitas menyontek kepada temannya.. Huft!! Kok bisa ya?? Itu pertanyaan yg ada di benak saya..
Pertanyaan ini pun pasti muncul..
Bagaimana siswanya bisa disiplin, hla wong pengawasnya aja online sendiri??
Berikut alasan saya, saya online dan sengaja membuat catatan karena saya merasa bosan. Partner saya pun begitu.
Para siswa sudah tidak bisa lagi dikondisikan, saya sengaja membiarkan agar mereka bisa leluasa menyontek temannya asal mereka tudak gaduh.
Sebenarnya hal seperti ini sangat mengganggu saya sebagai pendidik. Hilang sudah jiwa kependidikan saya. Sekarang yg timbul adalah jiwa kemanusiaan yang tudak tega melihat siswa akhirnya terancam tidak lulus karena adanya pengawas yg begitu ketat.
Pertanyaan kedua dari saya, sebenarnya siapa dan apa yang salah sehingga bisa terjadi hal semacam ini.
Sedih...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar