Selasa, 17 Maret 2015

rabu, 18 maret 2015

Daripada nganggur, saya akan bercerita tentang kejadian pagi ini sebelum saya berangkat kerja..

Saya bangun sekitar pukul 03.30 wib. Pelan2 sekali agar tidak membangunkan si kecil.. Perlu diketahui bahwa si kecil selalu tidur bersama saya sejak baru lahir. Memang awalnya Ata hanya molet saja, namun sekitar 15 menit kemudian Ata pun terbangun. Seperti biasa, tipa bangun dia selalu minta nenen . Setelah nenen beberapa saat, dia pun tertidur lagi. Saya lanjutkan aktifitas saya, yakni menyetrika pakaian yang akan saya gunakan untuk kerja nanti. Baru saja selesai menyetrika rok, tiba2 dy sudah molet lagi. Kali ini dia memanggil eyangnya..
"Yange..."
"Dalem..apa nak??" jawab saya sembari melanjutkan menyetrika pakaian.
Dia pun tersenyum mengahadap kearah saya sambil memanggil saya,
"Ibu... Nene... Mimik..." 
Saya pun menghampirinya, dan kemudian menyusuinya lagi.
Kebiasaan setiap pagi, anak saya selalu ikut eyang- nya berbelanja sayur mayur dan lauk di warung dekat rumah.
Berhubung pagi ini dia bangun agak terlambat karena tadi tidur lagi, jadi dia tidak ikut berbelanja. Namun, ketika selesai nenen dia tiba2 saja menatap saya sambil berkata,
"Ibu... Ndeyek yange banjaa..."
"Hlo... Hla yange pun blanja i nak..." jawab saya.
Sesaat dia pun diam. Dengan sangat tergesa2 dia mencoba bangun dari tempata tidur dan menghadap ke arah pintu. Tampaklah ibu saya yang baru saja pulang dari belanja. Anak saya segera memanggil ibu saya dan nengajak beliau belanja (lagi).
Dalam percakapan anak saya dengan ibu saya anak saya mengatakan bahwa dia ingin membeli telur asin. Karena hari sudah semakin siang dan saya harus segera berbenah dan bersiap2 berangakat bekerja, maka ibu saya pun menuruti permintaan cucunya.

Singkat cerita, setelah selesai mandi, sholat subuh, dan memandikan sekaligus mendadani Ata, gantian saya yang dandan dan ganti baju. Namun disela2 saya dandan, anak saya terus melihat saya dan kemudian bertanya kepada saya,
"Ibu... Ibu tullah??"
"Inggih nak.."
"Phani ndeyek tullah" sambil berdiri dan memeluk saya.
Dalam hati saya, kasihan sekali kamu nak.. Sudah beberapa hari ditinggal ibu dari pagi sampai siang.
Agar dia tidak kecewa dan tudak menangis, saya pun memberinya pengertian,
"Hlo.. Kok nderek.. Ya gak pareng ta ndhug.. Suk mben ya nek fani pun gedhe sekolah dhewe.." sambil menggendongnya keluar dari kamar dan memakaikannya tas serta sendal.
"Pun ya.. Fani sekolah karo yange.. Ki tas karo sepatune diagem ya.."
Kemudian salim dan berlari menuju ke arah ibu saya.

Betapa berat meninggalkan si kecil yang masih sangat butuh banyak waktu bersama saya.

Yang pintar y nak..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar